ELECTRONIC TRAFFIC LAW ENFORCEMENT (ETLE) LANGKAH POLRI MEMBANGUN PERABADAN BARU BERLALULINTAS

ELECTRONIC TRAFFIC LAW ENFORCEMENT (ETLE)

LANGKAH POLRI MEMBANGUN PERABADAN BARU BERLALULINTAS

Langkah Kepolisian Republik Indonesia menerapkan electronic traffic law enforcement (ETLE) perlu di dukung dan mendapat apresiasi. ETLE adalah sebuah sistem yang mengambil gambar/memotret pelanggaran yang terjadi di jalan raya melalui kamera CCTV.

Pengawasan via CCTV ini sangat berpengaruh terhadap modernisasi penegakan hukum secara elektronik, terutama E-TLE. Setidaknya ada tiga fungsi sistem CCTV dalam pengawasan itu.

Pertama, dapat memantau keadaan lalu lintas dari ruang kontrol. Kedua, mencegah dan mengurangi pelanggaran lalu lintas. Ketiga semua kegiatan yang terekam CCTV dapat dijadikan bukti untuk aksi kejahatan atau pelanggaran lalu lintas.

Kemacetan dan kondisi lalulintas yang semrawut seakan identik dengan budaya di Jakarta dan beberapa kota besar lain di Indonesia. Begitu pula angka kecelakaan yang terjadi. Lantas, sebenarnya apa masalah yang dihadapi kondisi lalu lintas di Indonesia.

Ada lima faktor utama yang menjadi masalah lalu lintas di Indonesia yang mengakibatkan kecelakaan atau kemacetan di jalan. Kelimanya saling terkait dan butuh penanganan bukan cuma dari kepolisian tetapi semua pihak.

ELECTRONIC TRAFFIC LAW ENFORCEMENT (ETLE)

Faktor pertama yaitu manusia Banyak kecelakaan maupun kemacetan di jalan karena faktor kesadaran manusia yang rendah seperti mereka kurang disiplin, tidak taat aturan, sengaja, lalai, atau dalam kondisi tidak prima, lelah, dan sebagainya. Ini bisa berbahaya di jalan.

Faktor Kedua yaitu faktor infrastruktur. Masalah ini berkaitan dengan kesiapan prasarana yang biasanya dikelola negara. Mulai dari struktur, pagar pengaman, permukaan, penerangan jalan, dan minimnya rambu lalu lintas.

Faktor Ketiga yaitu faktor kendaraan. Hal ini terkait dengan kualitas keselamatan yang ditawarkan produsen sampai kelalaian konsumen dalam merawat kondisi kendaraannya. Bisa terjadi ban pecah di jalan, rem blong, atau ada peralatan yang sudah haus, seperti baut dan sebagainya.

Faktor Keempat yaitu faktor alam. Hal ini diluar kemampuan manusia untuk mengaturnya, tetapi masih bisa dimanipulasi lewat desain atau struktur jalan yang ideal. Cuaca buruk, bencana alam, longsor, pohon tumbang, sampai banjir mengisi masalah pada faktor ini.

Faktor Kelima yaitu perkembangan teknologi informasi. Mulai dari penggunaan ponsel, tablet, atau apapun ketika sedang berkendara dan hal ini dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan yang lain.

Tata tertib lalu lintas ditujukan untuk mewujudkan, mendukung, dan memelihara  keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Tindakan aparat kepolisian untuk meningkatkan kedisiplinan sebenarnya sudah sering dilakukan dengan dua cara yaitu preventif dan represif.

ELECTRONIC TRAFFIC LAW ENFORCEMENT (ETLE)

Namun masyarakat hanya taat jika ada petugas yang berjaga jika tidak maka rambu-rambu lalu lintas akan dilanggar seenaknya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Data Kecelakaan dari Kepolisian RI mengatakan jumlah kejadian kecelakaan pada tahun 2017 adalah sebanyak 103,649 kejadian dengan korban meninggal sebanyak 30,684 orang.

Dari data tersebut terlihat bahwa tingkat kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia saat ini masih cukup tinggi dan sampai saat ini yang menjadi penyebab utama adalah faktor manusia.

Inti berkendara dengan tertib yaitu tidak saling menyerobot patuhi rambu-rambu lalulintas berkendara dalam keadaan sadar. Dan bagi pengendara mobil jangan lupa untuk menggunakan seatbelt dan juga tidak mengoperasikan handphone saat mengemudi.

Langkah Pemerintah menerapkan electronic traffic law enforcement (ETLE) perlu didukung, termasuk anggaran yang dibutuhkan untuk memasang CCTV. Dan Saya berharap pemerintah untuk menerapkan electronic traffic law enforcement (ETLE) diberlakukan diseluruh Indonesia khususnya di kota-kota besar di Indonesia.

Menerapkan electronic traffic law enforcement (ETLE) memaksa masyarakat untuk sadar hukum dimana Menurut Sudikno Mertokusumo kesadaran hukum yang rendah cenderung pada pelanggaran hukum, sedangkan makin tinggi kesadaran hukum seseorang makin tinggi ketaatan hukumnya.

ELECTRONIC TRAFFIC LAW ENFORCEMENT (ETLE)

Melalui CCTV yang dipasang masyarakat tidak bisa lagi mengelak jika aparat hukum dalam hal ini kepolisian mempunyai barang bukti yang jelas. Penerapan penindakan tilang dengan sistem elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) yang akan dilakukan kepolisian akan melibatkan berbagai instansi.

Polisi melibatkan Dishub sebagai pengoperasi kamera CCTV, Kantor Pos sebagai lembaga pengirim surat konfirmasi dan tilang, hingga kejaksaan dan pengadilan yang telah menyetujui gambaran pelanggaran sebagai barang bukti yang cukup.

Dalam hal ini pihak kepolisian menggunakan electronic traffic law enforcement (ETLE)  berpedoman pada UU lalulintas melalui alat bukti berdasarkan Pasal 184 KUHAP yang menyebut bahwa alat bukti diantaranya adalah surat hingga keterangan ahli serta ada perluasan alat bukti meliputi dokumentasi elektronik atau foto dalam UU ITE.

Bahwa untuk memberikan kenyaman kepada masyarakat dalam berkendara ada baiknya  pemerintah fokus membangun transportasi massal sehingga masyarakat mau beralih kepada trasnportasi publik yang nyaman dan cepat seperti. LRT, MRT dan Kereta Cepat dan transporasi publik lainnya sehingga dapat menekah kecelakan di Indonesia.

Sumber :

https://www.awambicara.id/2018/11/e-tilang-sistem-electronic-traffic-law-enforcement-etle.html

https://ekonomi.kompas.com/read/2015/04/10/150511330/5.Masalah.Utama.Lalu.Lintas.di.Indonesia

http://beritatrans.com/2018/09/25/data-polri-angka-kecelakaan-lalu-lintas-di-jalan-raya-tinggi/

http://jateng.tribunnews.com/2018/11/15/ini-dasar-hukum-polisi-menerapkan-sistem-tilang-elektronik

OLEH :HERU PRADIJONRIKA, SH.MH.MA.M.Ud

Calon Legislatif Demokrat Dapil Lampung I NO 8

PRAKTISI HUKUM DAN ALUMNI FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS TRISAKTI

Author: admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *