MEMBANGUN KESADARAN GENERASI MUDA ANTIKORUPSI DI INDONESIA

MEMBANGUN KESADARAN GENERASI MUDA ANTIKORUPSI DI INDONESIA

Permasalahan  korupsi  yang  dialami  oleh  bangsa  Indonesia  telah berada pada titik yang mengkhawatirkan.  Hal  ini  dikarenakan  dampak  yang diakibatkan  dari  adanya  korupsi  sangat  luas  dan  menggangu keberlangsungan proses kehidupan berbangsa dan  bernegara.

Tindakan korupsi merupakan perilaku yang buruk dengan menyalahgunakan sebuah jabatan atau wewenang.

Tindakan korupsi ini sangat merugikan banyak orang bahkan segala aspek kehidupan. Tindak  Pidana  Korupsi  di Indonesia  telah  berkembang dalam 3 (tiga) tahap yaitu elitis, endemic, dan sistematik: pada tahap elitis, korupsi masih menjadi  patologi  sosial yang  khas  di  lingkungan  para elit/pejabat.

Pada  tahap endemic,korupsi mewabah menjangkau lapisan masyarakat luas. Lalu ditahap yang kritis, ketika  korupsi  menjadi sistemik,  setiap individu di  dalam  sistem terjangkit penyakit  yang  serupa.

Penyakit  korupsi  di  Indonesia  ini telah  sampai  pada  tahap sistematik. Perbuatan  tindak  pidana  merupakan  pelanggaran  terhadap  hak-hak sosial  dan  hak-hak  ekonomi  masyarakat,  sehingga  tindak  pidana korupsi  tidak dapat  lagi  digolongkan  sebagai  kejahatan  biasa  (ordinary-crimes).  

Dalam upaya pemberantasannya tidak lagi dapat dilakukan “secara biasa”, tetapi dituntut cara-cara yang “luar biasa “ (extra-ordinary enforcement). Upaya pemberantasan korupsi yang efektif dan komprehensif membutuhkan  partisipasi  banyak pihak tak terkecuali pelajar dan pemuda. Alasan kuat mengapa pelajar dan pemuda perlu dikedepankan dalam membangun kesadaran anti korupsi di Indonesia.

Semua kita pasti pernah mendengar istilah “Belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu”. Istilah tersebut bukanlah bermakna bahwa belajar hanya untuk muda akan tetapi lebih pada penekanan bahwa masa emas untuk belajar adalah pada usia sekolah. Tugas utama seorang pelajar adalah belajar.

Belajar bukan hanya pelajaran sekolah saja, akan tetapi tidak kalah pentingnya belajar displin, moral, sopan santun dan kejujuran. Sedangkan Pemuda bisa digambarkan sebagai titik tertinggi dari perkembangan jiwa manusia sehingga dalam fase ini merupakan waktu yang sangat ideal bagi seseorang untuk bebas melakukan apapun dalam hidupnya. Pemuda juga digambarkan sebagai seseorang yang memiliki semangat tinggi, bertenaga, dan berintelektual.

Pada hakikatnya adalah bahwa masa depan suatu bangsa terletak di tangan pelajar dan pemuda, artinya merekalah yang akan menggantikan generasi sebelumnya dalam memimpin bangsa . Oleh karena itu mereka perlu diberi bekal berupa ilmu pengetahuan dengan cara memberikan mereka pendidikan baik formal maupun informal, baik pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi.

Pembangunan yang dilakukan oleh generasi muda merupakan rangkaian gerak perubahan menuju kemajuan. Didalam pembangunan nasional, bukan hanya pembangunan fisik saja yang diperlukan melainkan membawa mereka agar terciptanya perubahan sosial.

Penanaman nilai-nilai kejujuran sebagai salah satu cara mencegah korupsi sejak dini sangatlah penting. Bahwa membangun kesadaran generasi muda bisa dilakukan dalam kehidupan sehari hari bagi kalangan pelajar dan pemuda seperti menjelaskan prinsip-prinsip kejujuran yang ada di dalam kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari seperti mengerjakan ujian, berkata jujur dengan teman, atau pun jujur pada saat ditanya oleh orang tua.

Dengan begitu, secara perlahan kita dapat menanamkan sifat kejujuran kepada diri mereka agar pada saat mereka dewasa, mereka bisa memiliki ketahanan terhadap tindakan korupsi yang dapat dilakukan dengan mudah apabila di dalam seseorang sudah memiliki sikap tidak jujur.

Bahwa membangun kesadaran generasi muda dalam memberantas korupsi wajib dilakukan di sekolah, ada baiknya pemerintah membentuk kurikulum anti korupsi sejak sekolah dasar dengan melakukan  pendidikan antikorupsi  yang mencakup  aspek  kognitif,  afektif,  maupun psikomotorik.  

Aspek kognitif  akan  memberikan  bekal  pengetahuan  dan pemahaman kepada  siswa tentang bahaya korupsi, sehingga ia akan memiliki komitmen yang tinggi terhadap upaya    pemberantasan    korupsi. Aspek   afektif akan    berkorelasi    dengan pembentukan sikap, kesadaran, dan keyakinan bahwa sikap antikorupsi harus ada dan dilakukan  dalam berbagai  bidang  kehidupan  masyarakat.  

Adapun  aspek psikomotorik akan   memberikan   keterampilan   dan perilaku kepada   siswa bagaimana  bertindak  melawan  korupsi  yang terjadi pada  diri  sendiri maupun orang lain. Strategi sekolah yang seperti ini akan memberikan pengalaman kepada siswa  akan  pentingnya mengembangkan  sikap, perilaku,  dan  kebiasaan  yang beorientasi kepada kejujuran serta memiliki jiwa anti korupsi.

Melihat aspek pencegahan sangat penting dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia, baiknya pemerintah meningkatkan anggaran KPK dalam upaya pencegahan korupsi sejak dini dengan bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dalam upaya memberikan pemahaman bahaya korupsi sejak dini sehingga tindakan koruptif bisa ditekan sehingga perekonomian Ekonomi Indonesia terus meningkat.

OLEH : HERU PRADIJONRIKA, SH.MH.MA.M.Ud

Calon Legislatif Demokrat Dapil Lampung I NO 8

Ketua Departemen Kajian Hukum

Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta

Author: admin

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *